Humbahas-|Rakyat Nusantara|28 Januari 2026 – Banyak petani cabe di Kecamatan Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) mengeluhkan kondisi yang semakin sulit akibat kenaikan harga pupuk dan obat-obatan pertanian yang tidak sebanding dengan harga jual cabe di pasaran. Kondisi ini membuat banyak petani merasa tertekan dan khawatir akan mengalami kerugian pada panen yang akan datang.
Dari kunjungan langsung ke lahan pertanian cabe di daerah tersebut, terlihat tanaman cabe tumbuh dengan baik dan siap untuk dipanen dalam waktu dekat. Namun, suasana gembira para petani terkikis oleh beban biaya produksi yang terus meningkat dari hari ke hari.
Biaya Produksi Melonjak, Harga Pasar Tidak Menjangkau
Kiai Siregar, salah satu petani cabe yang telah bertani selama lebih dari 10 tahun, mengaku bahwa kenaikan harga input pertanian sangat signifikan dalam beberapa bulan terakhir. “Pupuk kimia yang dulunya harganya sekitar Rp50.000 per karung, sekarang sudah mencapai lebih dari Rp85.000. Begitu juga dengan obat-obatan untuk mengendalikan hama dan penyakit, harganya naik hampir 40%. Padahal harga cabe di pasar saat ini hanya berkisar antara Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram, jauh di bawah ekspektasi kita,” ujarnya dengan nada khawatir.
Menurut para petani, untuk lahan seluas 1 hektar saja, biaya yang dikeluarkan untuk membeli pupuk, obat-obatan, bibit, serta biaya tenaga kerja bisa mencapai lebih dari Rp50 juta. Sedangkan hasil panen yang diharapkan dari lahan tersebut sekitar 8 hingga 10 ton cabe, yang jika dihitung berdasarkan harga pasar saat ini, hanya akan menghasilkan pendapatan sekitar Rp120 juta hingga Rp200 juta. Namun, setelah dikurangi dengan biaya produksi dan biaya lain seperti transportasi ke pasar, keuntungan yang diterima petani menjadi sangat minim bahkan bisa saja mengalami kerugian jika terjadi gagal panen atau harga cabe jatuh lebih rendah.
Permintaan Bantuan Kepada Pihak Berwenang
Para petani berharap pihak pemerintah daerah khususnya Dinas Pertanian Kabupaten Humbang Hasundutan dapat memberikan bantuan dan solusi untuk mengatasi permasalahan yang mereka hadapi. Beberapa hal yang menjadi permintaan para petani antara lain:
– Penyediaan pupuk dan obat-obatan pertanian subsidi dengan harga terjangkau bagi petani
– Pembentukan pusat pemasaran cabe yang terpadu agar petani tidak tergantung pada harga yang ditentukan oleh tengkulak
– Pemberian pelatihan tentang teknologi pertanian yang lebih efisien untuk mengurangi penggunaan pupuk dan obat-obatan secara berlebihan
– Pendirian badan usaha bersama petani cabe untuk memperkuat daya tawar dalam pemasaran hasil panen
“Kita tidak menginginkan bantuan tunai semata, tapi lebih kepada dukungan yang bisa membuat usaha tani kita menjadi lebih berkelanjutan. Jika kondisi ini terus berlanjut, tak sedikit petani yang berpikir untuk beralih ke komoditas lain atau bahkan meninggalkan sektor pertanian,” tambah Kiai Siregar.
Pihak Dinas Pertanian Humbang Hasundutan mudah mudahan menanggapi keluhan masyarakat humbahas resmi terkait keluhan para petani cabe tersebut. Namun, harapannya dengan adanya keluhan yang disampaikan ini, akan segera ada tindakan konkret untuk membantu meningkatkan kesejahteraan petani di daerah Dolok Sanggul..(Rusmani simanullang)













Komentar